..penikmat musim..

four season in ur heart makes u being wonderful..

15.8.07

Jika Pulang Kampung

Tadi pagi saya menerima email dari teman di Birmingham yang sudah pulang ke Indo sejak tiga bulan lalu. Banyak cerita yang dituliskan. Salah satunya tentang seorang anaknya yang tiba-tiba terbebas dari kelainan kulit (excema). Anaknya yang berumur hampir dua tahun ini langsung memiliki kulit yang mulus dan tidak lagi terkelupas. Bahkan gejala membaiknya mulai terlihat setelah meninggalkan UK dan transit di Dubai. Mungkin saja kelainan ini karena anaknya itu punya tubuh tropis dan tidak cocok dengan cuaca Birmingham walaupun lahir disini.

Lain lagi cerita teman yang lain yang sudah 8 tahun tinggal di Birmingham dan baru juga beradaptasi dengan lingkungan Indonesia. Kelima anaknya harus mengambil les privat Bahasa Indonesia karena kesusahan mengikuti pelajaran di sekolah. Kebetulan di daerah tempat mereka tinggal belum ada International School, jadi mereka harus terpaksa masuk di sekolah negeri dengan penyetaraan. Memang sejak di Birmingham anaknya tidak pernah dibiasakan berbahasa Indonesia. Orang tuanya yang asli Jawa bercakap sehari-hari di rumah memakai bahasa Jawa. Sedangkan untuk sekolah dan bergaul anak-anaknya memakai english. Alhasil kelima anaknya fasih berbahasa jawa plus english.

Bahkan salah satu anaknya harus rela pulang balik sekolah karena salah memakai seragam padahal sudah diumumkan pada saat upacara bendera juga dikelas masing-masing. Tapi karena dia belum mengerti betul Bahasa Indonesia maka bersusah payahlah orang tuanya pulang balik sekolah menjelaskan. Lagian juga, menurut anaknya, biasanya kalau ada pemberitahuan melalui surat dari sekolah. Anaknya masih memiliki pikiran dan perilaku seolah masih bersekolah di Birmingham.

Belum lagi adiknya yang paling kecil. Tidak mau minum susu kalau bukan produk Inggris. Padahal Ibunya sudah membelikan seribu satu macam merek susu yang ada di supermarket tapi anaknya tidak mau minum karena rasanya beda. Terang saja, susu disini segar dan expire date-nya hanya seminggu. Jadi terasa betul susunya yang tanpa pengawet.

Mungkin seperti inilah gambaran umum masalah yang akan dihadapi para orang tua yang membesarkan anaknya di negara maju. Tidak sedikit yang harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk bisa hidup normal kembali sebagai orang Indonesia yang mempunyai kebiasaan dan sikap seperti kebanyakan orang Indonesia. Merubah tingkah laku dan kebiasaan cenderung memakan waktu tapi bukan tidak mungkin.

Saya juga mulai khawatir kalau pulang nanti. Tiap hari saya sarapan dengan honey nut cereal plus whole milk pun sebelum tidur harus minum susu dulu segelas. Ngemil biasanya panggang croissant pake chocolate spread. Itu kalau makanan. Belum lagi lingkungan. Jalanan disini tidak berdebu dan hampir tidak pernah macet, pengendara sepeda motor pun sangat jarang apalagi kalau winter tidak ada sama sekali. Kemana-mana saya terbiasa naik bus atau train. Tidak pernah macet, tepat waktu dan tidak sesak. Jadwalnya pun bisa diketahui via internet atau hanya sms. Membayar seluruh tagihan tinggal potong saldo di bank. Semuanya simple dan teratur.

Bagaimana dengan seluruh kebiasaan itu?bagaimana menggantikannya dengan yang baru?Sepertinya berat.Tapi itu nanti, kan masih ada setahun insya allah. Mau minum susu dulu ah..

Labels:

4 Comments:

    • At 15 August 2007 at 19:24:00 GMT-7, Blogger Ifool said…

      Pit..
      ceritamu di atas mengingatkan saya sama seorang bapak di kantor yg pernah tinggal di Lyon selama 5 tahun. kebetulan kedua anaknya juga lahir di sana. pulang ke Indonesia, yg paling menderita akibat perubahan budaya adalah anak-anaknya (waktu itu baru berumur 4&5 thn). anak-anaknya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, dan sayangnya orang2 di sekitarnya jg tidak bisa berbahasa Prancis. kalau bahasa Inggris mgkn msh banyak ya..akhirnya setiap hr sang anak hanya punya 2 orang yg bisa diajak komunikasi.

      bayangkan saat Ibu-bapaknya ke kantor. kedua anak itu hanya tinggal di rumah , bengong, susah komunikasi dengan org lain. mau beol juga susah, karena menganggap WC di sini jorok, jalan2 ke mana juga nggak mau karena jalanan becek ato berdebu. pokoknya kasian sekali. oya, satu lagi..kulitnya jadi rusak, gatal2 dan kayak korengan. rupanya kulitnya ndak cocok sama alam tropis.

      kondisi ini berlangsung agak lama, hampir setahun sebelum akhirya dia berangsur2 bisa beradaptasi dengan Indonesia. bahkan 8 tahun kemudian (hari ini) mereka berdua sudah lupa sm bahasa Prancisnya, mereka malah sudah lancar berbahasa Makassar.

      bapaknya sendiri sampai sekarang masih terus menjaga tradisi teratur dan rapi bawaan dari Perancis. di kantor berliau terkenal sebagai org yg sangat rapih, bersih, dan taat lalu lintas...pokoknya jadi keliatan aneh di antara orang2 Indonesia..

      kalo Fitri, sy yakin besok2 juga mgkn kena shock culture lagi, tapi mudah2an bisa mempertahankan yg baik2 yg dibawa dr Inggris. satu lagi, nanti croisant-nya diganti sama buroncong, putu cangkir n sanggara unti...hehehe..

      btw Fit, sy lagi sedih n kesal gara2 EPL tidak ditayangkan free TV di sini....:(, kangen mo liat aksinya pemain2 MU, Liverpool, Arsenal, dll...

      hhhh...

       
    • At 16 August 2007 at 08:37:00 GMT-7, Anonymous pit said…

      thanks Daeng Ifool.mudah2an nanti nda lama shock culture-nya.oya,disini juga klo mau nonton EPL harus langganan di SkySport £10/bln tp yg free highlight-nya di BBC.kadang-kadang juga langsung nonton di stadionnya,hehee..

       
    • At 17 August 2007 at 06:54:00 GMT-7, Anonymous Miya said…

      pit, ceritamu bagus de'. Mending nah yg pulang kampung. Saya saja yg pulang ke kampungnya daeng harus banyak adaptasi juga. Di sini toh jarang ada susu segarnya seperti yg di Inggris dari berbagai macam merek dan pilihan.
      Trus masih banyak kebiasaan2 disini yg masih perlu diadaptasi. Tantangan juga buatku.
      Kalau mau tau angin2nya hmm kayaknya sih kayak di Enrekang. mirip2 deh kalau dipaksakan hehehehe. Tengah2 kotanya juga ada dua sungai yg bertemu, mirip ji kampungku.

      Jangan2 kau tidak pulang2 mi nanti Pit..

      Salam sayang dari Belgia.

      ps. maaf jarang2 mi saya tengok blogspotku.

       
    • At 18 August 2007 at 03:46:00 GMT-7, Blogger keep smile said…

      Betul pit, pulang ke indo kemarin aku juga sempat butuh waktu untuk penyesuaian. Kebiasaan di US, gak bisa buang sampah sembarangan, eh giliran di Indo, tasku ampe penuh sampah, karena setiap habis makan apapun langsung bungkusnya masukkan tas. Niatnya sih entar kalau ada tempat sampah di buang. Seperti yang kamu tahu sendiri, di Indo tempat sampah gak disemua tempat tersedia. Jadinya sampah-sampah itu ngendon di tasku. Aku juga akan ngomel-ngomel kalau ada orang buang sampah sembarangan. Tapi aku malah dilihat aneh tuh.

      Adapatasi dengan udara juga sangat sulit. 2 minggu pertama aku kebingungan karena selalu kepanasan.

      Jadi...hidup memang perjuangan.

      Yuk minum susu dulu biar gak kena cacar air lagi hehehhe

       
    • Post a Comment