..penikmat musim..

four season in ur heart makes u being wonderful..

20.8.07

HUT Proklamasi di Birmingham Inggris, menunggu “Weekend”

Foto bersama sebelum pulang

Foto bersama lagi

Lomba lari kelereng,eh coklat
Berteduh dari cuaca buruk, menggelar "upacara" di bawah tenda



Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan warga Indonesia lainnya di Birmingham Inggris harus sabar menunggu akhir pekan untuk merayakan HUT Proklamasi ke-62. Hari Proklamasi yang tahun ini jatuh pada hari Jumat membuat mereka terpaksa menunda dua hari perayaan ini. Cuaca buruk tidak menghalangi niat menggelar peringatan proklamasi, sebagaimana dilaporkan Rusni Fitri berikut ini. (p!)

Laporan cuaca hari Minggu (19/8), menunjukkan suhu berkisar 10 -15 derajat celcius dengan guyuran hujan dan angin kencang di seluruh wilayah Birmingham. Kabar ini membuat mahasiswa Indonesia yang bersiap mengikuti perayaan HUT Kemerdekaan ke 62 mengamati perubahan cuaca dengan harap-harap cemas. Akan batalkah kegiatan ini mengingat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan mengadakan kegiatan di luar rumah? Apalagi sebelumnya sempat beredar kabar bahwa acara tahunan ini tidak jadi dilaksanakan karena cuaca buruk yang terjadi sejak seminggu terakhir.

Untunglah cuaca tidak menjadi alasan. Setelah menghubungi salah seorang panitia, saya mendapat penjelasan bahwa perayaan HUT RI ke-62 yang harus diundur ke hari Minggu ini tetap dilaksanakan.

Sudah sejak jauh hari panitia dari PPI Birmingham mengadakan sosialisasi kegiatan. Baik melalui orang per orang maupun mailing list. Panitia menetapkan hari Minggu karena pada tanggal 17 Agustus kegiatan kuliah dan kerja tetap jalan seperti biasa. Namanya juga negara orang, tentu tidak ada libur 17 Agustus-an seperti di Indonesia.

Bagaimana perayaan kemerdekaan yang dirancang mahasiswa ini? Ada beberapa kegiatan yang disodorkan, di antaranya berbagai lomba dan bazar makanan Indonesia.

Pukul 12 siang, sudah banyak orang yang berkumpul. Cuaca masih bersahabat, hanya semilir angin yang membelai. Panitia sudah membersihkan lapangan Aston Park tempat acara berlangsung. Tidak ada meja, kursi ataupun tenda-tenda besar. Hanya ada sebuah tenda kecil berkapasitas 10 orang. Itu pun tidak terpakai karena kami menggunakan alas duduk yang digelar lapangan terbuka untuk tempat duduk sekaligus sebagai tempat ibu-ibu menjual masakannya. Kegiatan ini benar-benar jauh dari kesan mewah.

Masakan Indonesia langsung diserbu pembeli


Di tempat berlangsung kegiatan, aroma berbagai masakan Indonesia begitu menggoda. Acara makan siang menjadi pembuka perayaan. Saya sendiri bingung mau makan yang mana terlebih dahulu. Ada siomay, bakso malang, rendang, nasi padang, mie ayam. Rasanya mau mencicipi semuanya karena masakan khas Indonesia jarang ditemui. Bukannya saya malas masak, tapi bahannya yang mahal dan langka.

“Makanannya enak dan lumayan buat mengobati rindu makanan Indonesia, “ ujar Abdullah Faqih, mahasiswa S2 yang indekos dan sehari-harinya harus masak sendiri. Lain lagi buat Wanda, dia beserta suami dan kedua anaknya sengaja datang untuk makan siang. “Mumpung ada bazar jadi puas-puasin makan apalagi makanan seperti ini susah kalau buat sendiri," ujarnya sambil siap sedia memesan beberapa kotak untuk dibawa pulang. Selain berjualan makanan, ada peserta bazar yang menjual bumbu dan bahan makanan Indonesia di salah satu pojok. Ada serai, jeruk nipis, petai hingga berbagai jenis mi instan yang diimpor langsung dari Indonesia.

Masing-masing ibu yang menjual masakan minimal punya persediaan 30 porsi tiap jenis makanan. Harga sekotak siomay dijual £ 2.50 (sekitar Rp46.000) sedangkan yang paling mahal nasi padang £ 3.00 (kurang lebih Rp56.000). Rata-rata seorang peserta minimal membeli dua jenis makanan untuk disantap di tempat, dan membeli lagi untuk dibawa pulang. Saya sendiri makan sekotak siomay dan bakso plus sekotak dendeng untuk di bawa pulang. Hitung-hitung, lumayan untung juga menjual masakan khas Indonesia di acara bazar seperti ini. Hanya dalam waktu satu jam jualan para ibu yang masing-masing telah dikenal pandai masak itu sudah habis terjual.

Bertahan di tengah cuaca buruk

Tepat selesai acara makan, tiba-tiba angin berhembus kencang disusul hujan yang semakin lama semakin deras. Kami semua panik dan berkumpul di bawah tenda. Rupanya tenda tunggal tidak bisa menampung kami yang berjumlah sekitar 30 orang ditambah anak-anak. Maka jadilah lembaran plastik yang tadinya menjadi alas duduk disulap menjadi tenda, dengan ditopang bersama menggunakan tangan. Tenda-tenda darurat pun didirikan, bahkan sebuah tripot milik seorang mahasiswa harus rela digunakan sebagai penyangga tenda.

Di sela-sela cuaca buruk ini panitia berinisiatif mengisinya untuk acara penghormatan HUT Kemerdekaan RI. Kami bersama-sama mengheningkan cipta lalu dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan terakhir berdoa untuk pahlawan serta bangsa dan negara. Walaupun tidak ada pengibaran bendera namun upacara di bawah tenda ini begitu khidmat. Hanya ada sebuah bendera yang telah dipasang di antara tiang penyangga tenda tunggal. Kepada bendera itulah kami hormat sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Detik-detik berlangsungnya upacara ini terasa menggetarkan tentu saja.

Hampir satu jam kami berteduh menuggu hujan reda. Anak-anak kecil sudah tidak sabar ikut lomba. Panitia pun akhirnya memutuskan segera mengadakan lomba di tengah hembusan angin yang masih kencang.

Pertama adalah lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Lomba kali ini membutuhkan waktu lebih banyak tingkat kesulitan lebih tinggi dari biasanya, karena kondisi angin yang tidak bersahabat. Seorang anak yang berada di urutan terakhir menyedot perhatian penonton. Dia begitu gigih dan berusaha keras walupun badannya telah menggigil kedinginan tapi tetap lucu juga karena wajahnya yang ekspresif.


Lomba lari kelereng? Bukan, lomba lari permen coklat...

Untuk mengadakan lomba khas Indonesia, panitia juga berpikir kreatif, misalnya mengganti karung dengan plastik sampah berukuran besar yang berwarna hitam. Sedangkan untuk lari kelereng digantikan dengan permen coklat berbentuk dan sebesar kelereng. Lomba lari menggunakan permen coklat ini yang harus beberapa kali diulang karena beberapa anak entah secara sadar atau tidak sadar memakan coklatnya di tengah pertandingan. Tak ayal lagi, lomba ini yang menjadi favorit anak-anak.

Tak ada karung, plastik sampah pun jadi...

Melihat serunya perlombaan yang berlangsung, orang dewasa pun akhirnya ikut lomba. Maka bertambahlah lomba menjadi versi anak-anak dan versi dewasa. Tiap lomba yang telah diselesaikan anak-anak maka selanjutnya untuk dewasa. Ibu-ibu dan bapak-bapak layaknya para pendekar yang turun gunung. Anak-anaknya tidak kalah ribut menyoraki orang tua mereka yang berlomba. Mahasiswa yang sedang stres menyelesaikan tugas akhir pun ikut lebur dalam kegembiraan lomba, sejenak melupakan disertasi mereka yang sudah dekat deadline.

Hari sudah beranjak sore dan cuaca semakin buruk. Penerimaan hadiah dan foto bersama menjadi acara penutup. Peringatan hari kemerdekaan kali ini sangat sederhana dengan jumlah orang yang tidak banyak. Namun kegembiraan begitu lekat di wajah kami yang bisa berkumpul sebagai masyarakat Indonesia yang sebangsa dan setanah air di tanah rantau, merayakan kemerdekaan Indonesia. (p!)

*Citizen reporter Rusni Fitri dapat dihubungi melalui email : rusni.fitri@gmail.com

Labels:

2 Comments:

    • At 22 August 2007 at 20:03:00 GMT-7, Blogger Ifool said…

      bagaimana rasanya merayakan kemerdekaan negeri sendiri di negeri orang ?...tergetarkah hatimu..?, rindukah dirimu..?

      kata temanku, saat ikut merayakan kemerdekaan di konjen RI di Inggris, dia sempat menitikkan air mata...

      hhhh..apapun itu, selamat ulang tahun bwat negeriku..hope everything will better than now...

       
    • At 5 September 2007 at 02:12:00 GMT-7, Anonymous daeng rusle said…

      merdeka,
      saya kadang lupa apa pentingnya buat saya. mungkin karena saya ndak ikut berjuang waktu jaman perang dulu.
      yg saya tahu arti merdeka hanya saat saya selesai OPSPEK di kampus dulu...wuh...rasanya kembali jadi manusia lagi...

       
    • Post a Comment